Saturday, February 4, 2012

Hidup Ini Jangan Dibawa Susah #ODHA

“Hidup ini jangan dibawa susah, semua ntar juga mati”, kata seorang pemuda ke gadis yang duduk di berjarah dua bangku dari saya. Di rumah sakit bilangan Jakarta Timur, siang ini saya sedang antri periksa jempol kaki kiri karena kuku terlepas awal Januari lalu saat mengurus kargo sepeda motor di Stasiun Senen. Puji Tuhan luka di jempol sudah kering, tapi kondisinya botak karena kuku sudah lepas. Tapi menurut dokter butuh perawatan khusus untuk menghindari kotoran masuk melalui rongga bekas kontur kuku.

Mendengar pembicaraan pemuda itu, saya tertarik untuk tau apa gerangan sakit pemuda ini kok sampai bawa-bawa kata ‘mati’. Setelah terlibat pembicaraan dengan pemuda, yang sebut saja namanya Benjol, saya tau kalau dia adalah ODHA. Istilah yang pada era ini sudah tidak asing lagi, yakni Orang Dengan HIV Aids. Rupanya hari ini jadwal rutin dia untuk memeriksakan diri dan mengambil obat. Melalui rumah sakit ini dia bisa memperoleh akses perawatan untuk monitoring kondisi kesehatan dan mendapat obat yang harus dia konsumsi seumur hidup. Dia mengaku sudah sering megalami kondisi drop. Hal ini ditunjukkan dengan parameter hasil pemeriksaan CD4 di bawah angka 25. Setahu saya kondisi bisa drop karena daya tahan tubuh masing-masing berbeda, pola hidup yang yang tidak sehat seperti merokok, konsumsi alkohol, konsumsi narkoba, lingkungan yang mengakibatkan mudah terpapar polusi, dan makanan yang tidak sehat.
Setelah saya selesai menjalani pemeriksaan, saya kembali duduk bersama Benjol sambil menunggu sang dokter dating. Pikir saya dia sudah selesai, tapi dia mesti ambil obat dia bagian depo obat. Rasa ingin tahu membuat saya ikuti dia sambil ngobrol-ngobrol tentang muasal dia bisa terindikasi HIV. Ia mengaku awalnya karena perilaku penyalahgunaan narkoba dengan alat suntik. Wow, rupanya dia pengguna putaw. Memang situasi yang sulit untuk bisa bebas dari jerat putaw, karena saya pernah ada di sana cukup lama. Ini bukan suatu kesombongan bisa lepas dari jerat narkoba, tapi sesuatu yang patut disyukuri dan diperjuangkan karena mengingat tidak mudah lepas. Puji Tuhan, saya bisa lewati masa-masa sulit untuk lepas. Ini berkat dukungan dan doa keluarga, lingkungan dan orang yang sangat mencintai saya sehingga saya tidak jatuh lebih dalam lagi. Memperhatikan Benjol secara fisik dan pemilihan gaya bahasanya mengingatkan saya tempo dulu  Inilah yang membuat saya selalu dalam posisi empati dan simpati kepada korban narkoba. Saran saya buat teman-teman yang masih terlibat dengan narkoba, berhenti sekarang atau nanti mati sebagai pecundang.

Pasien yang menunggu antrian mendapat Anti Retroviral Virul (ARV) sekitar 15 orang. Diantaranya yang antri bukan penderita langsung, tapi ada sanak saudara ODHA, atau bahkan untuk dirinya dan pasangannya sekaligus yang sudah tidak bisa lagi datang berobat karena kondisi fisik yang tidak mampu jalan. Setelah menunggu sekitar 45 menit untuk proses verifikasi data dan pembuktian secara fisik untuk obat yang tersisa pada bulan sebelumnya, akhirnya Benjol memperoleh obat untuk durasi satu bulan. Itu yang setiap bulan harus dia lalui agar dapat pertahankan kondisi fisiknya. Tiap hari harus minum obat dua kali tepat waktu. Jadi ingat dengan pengakuan Dahlan Iskan yang saat ini menjabat Menteri BUMN juga harus minum obat setiap hari pukul 5 pagi sebagai konektor ‘hati baru’ setelah menjalani transplantasi hati. Hampir tidak ada beda dalam pola minum obat, sama saja.

Serangkaian prosedur pemeriksaan dan memperoleh obat yang diakses oleh ODHA dengan mudah tentu telah melalui proses pengkajian dan advokasi oleh pihak-pihak pemangku kepentingan dan penggiat HIV AIDS. Penting bagi semua pihak untuk menjaga komitment, baik untuk menyediakan layanan, advokasi untuk menekan akan prevelansi HIV AIDS. Demikian juga ODHA sendiri untuk menjaga kesehatan dengan menjalankan pola hidup sehat, yakni makan makanan sehat, vitamin, olah raga dan menjaga sanitasi lingkungan yang bersih. Oh iya, jangan lupa buang sampah dan bekas obat di tempatnya ya kawan . Memang standart hidup yang sehat tidak lepas dari kemampuan sumber daya yang baik. Bayangkan saja seandainya orang tidak lagi punya pilihan untuk hidup di lingkungan kumuh dan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya saja masih belum mampu. Maka yang akan dikorbankan adalah biaya pendidikan keluarganya dan kesehatan. Maka usaha mandiri ODHA untuk mencapai standart hidup layak dari segi kesehatan akan sia-sia. Dibutuhkan usaha yang integratif dari semua pihak untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA, dari segi sanitasi dan pembangunan perekonomian, hingga akhirnya usaha penanggulangan HIV juga akan berjalan maksimal. Masih banyak penggiat pekerjaan sosial yang bisa lakukan untuk mensuport ODHA dengan beberapa pendekatan pembangunan, yakni kesehatan dan perekonomian. Tetap semangat untuk teman-teman ODHA karena kalian tidak akan berjalan sendiri. YNWA.

Wednesday, May 11, 2011

Doa Hernandes dan Gol Cepatnya.


Laga ini jadi bisa jadi sebagai penentu siapa juara Barclay Premier League. Menjelang kick off babak pertama pada laga Manchester United vs Chelsea, Nampak Javier Hernández Balcázar atau yang biasa dipanggil Chicharito oleh penggemarnya mendaraskan doa yang cukup lama di tengah lapangan. Belum genap 1 menit pluit tanda pertandingan dimulai, tepatnya detik ke 39, Hernandez berhasil melesatkan gol pembuka meneruskan umpan Park Ji-Sung.

Memang doa Hernandez, pemain asal Meksiko dengan gol cepatnya tidak ada hubungannya secara langsung. Ada catatan gol lebih catatan gol yang lebih cepat dilesakkan oleh Nawaf Al Abed pada detik ke 2. Doa, gol dan hasil akhir pertandingan hanya Tuhan yang tahu. Terlepas ada tangan-tangan yang terlepas ada tangan-tangan yang tak terlihat ikut mengatur hasil akhir pertandingan. Wasit Howard Webb dalam kaitan pada pertandingan ini dipertanyakan intergritasnnya. Tapi tunggu dulu, dia juga tidak bisa bertindak sebagai tuhan yang menentukan hasil akhir dengan serta merta.

Hubungan doa dan usaha manusia untuk mendapatkan manusia sering menjadi perdebatan pemahaman sebuah keyakinan relegius. Satu pihak memahami doa menjadi pendukung sebuah usaha yang dilakukan. Satu pihak lain, memahami berdoa saja tanpa mementingkan usaha keras. Pada pihak lain lagi yang lebih ektrim memahami bahwa usaha keras kita lebih menentukan dari pada doa. Pertanyaannya, apakah ketika kita sudah berupaya dan berdoa keras, tapi hasil yang kita peroleh tidak sesuai dengan harapan artinya Tuhan tidak adil? Ironis jika pemahaman itu dibiarkan liar mempengaruhi pemikiran kita. Adanya banyak orang yang berusaha dan berdoa keras untuk hidupnya lebih baik, memperoleh kehidupan yang lebih banyak, tapi tetap diijinkan untuk berjuang hidup memenuhi kebutuhan hidupnya. Apa Tuhan salah? Ada banyak yang mempengaruhi, hidup diluar kita yang tidak membuka kesempatan memperolehnya. Keadilan, kejujuran, belas kasihan dan kearifan juga perlu dimiliki orang-orang disekitar kita untuk melihat apa yang diharapkan oleh Sang Pencipta bagi sesame manusia. Lantas mengapa Tuhan tidak memusnahkan manusia yang serakan dan berbuat jahat? Itu tetap menjadi rahasia Tuhan.

Lebih parahnya, jika kita tidak mau berusaha dengan keras dan tidak mau berdoa dengan keras. Pada jaman yang serba instan dan dipengaruhi budaya mcdonalisasi dengan mengharapkan segala sesuatu tersaji dengan cepat tanpa adanya usaha. Masih diperlukan doa dan usaha keras untuk melakukan yang terbaik daam hidup ini. Kalau ada ungkapan yang mengatakan, “untuk mencapai sukses, yang menentukan bakat 10% dan usaha keras 90%” Bagaimana kalau keduanya kita serahkan dalam doa?

Selamat Manchester United, Anda layak dapat bintang!!! Untuk Chelsea bukankan ada menit-menit pertandingan yang lain?
sumber foto:

Monday, May 9, 2011

Kopi Ulee Kareng dan Gorengan Oro Oro Ombo di Hujan Bulan Mei

Hujan yang menurut saya over dosis ini membuat Kota Wisata Batu semakin dingin. Cuaca itu menimbulkan rasa ingin makan yang entah berasal dari perut atau mulut untuk makan tempe dan pisang goreng. Hujan ditembus untuk sekedar memuaskan keinginan mengunyah dua macam cemilan yang kaya minyak yang dijual lima ratus rupiah sebiji.

Teringat buah tangan seorang teman dari Aceh, ya kopi Ulee Kareng. Jadilah sore ini dinikmati bersama gorengan yang saya beli dari desa sebelah dan kopi Ulee Kareng yang berasal dari belahan barat Indonesia. Dua jenis makanan dari daerah berbeda, tapi membuat sore ini cukup hangat dan nyaman. Entah berapa orang penduduk Kota Wisata Batu yang tidak bisa merasakan seperti yang saya rasakan sore ini. Hujan, dingin, dan ingin makan tentu tidak bisa dipuaskan hanya dengan datang ke alun-alun Kota Wisata Batu seharga 12,7 milyar rupiah. Urusan perut lapar dan alun-alun memang tidak ada kaitannya. Tapi berharap adanya alun-alun yang diresmikan dengan perayaan bertajuk “Moment Spektakuler” sebagai moment kebangkitan ekonomi masyarakat Kota Wisata Batu juga tidak ada salahnya. Ini bergantung pada dari mana saya, Anda, dan Mereka melihat itu semua.

Sudut pandang boleh berbeda, tapi paling penting tujuannya sama, itu saja. Pemerintah dan seluruh stakeholder Kota Wisata Batu boleh saling berbeda satu dengan lain dalam melihat alun-alun baru ini, yang penting masyarakat tetap mendapat kesempatan menerima manfaatnya.

Thursday, April 7, 2011

Susur Sungai Kahayan

Menyusur Sungai Kahayan dengan menumpang kelotok (perahu) pengangkut kangkung dan ternyata menambah pengalaman baru Minggu (27/03/2011). Jembatan Kahayan menjadi tetenger kota Palangkaraya. Jembatan dengan panjang 640 m dan lebar 9 meter dibangun 1995- 2001. Kelotok atau perahu yang biasa digunakan melintas di Sungai Kahayan ternyata rata-rata mesin motor penggeraknya kalau dilihat mereknya diketahui buatan China. Langit Minggu pagi yang masih menina bobokan penghuni DAS Kahayan yang memiliki panjang 250 KM. Kehidupan sungai pagi sudah dimulai dengan ritual yang relatif sama dilakukan oleh manusia dimana saja, yakni ke WC.

Sebuah toko yang menyediakan kebutuhan pokok penduduk Sungai Kahayan. Mulai pangan sampai kebutuhan kamar mandi. Meski aktifitas MCK di satu tempat dan air yang sama, peralatan mandi juga harus yang berlabel sama dengan yang ada di televisi.


Ini model peternakan di DAS Kahayan. Ikan punya keramba, merpati dan ayam punya kandang.





Sarana angkutan air untuk perabot rumah tangga lebih murah dari pada lewat darat.


Ramai lalu lintas air Sungai Kahayan disediakan stasiun pengisian bahan bakar untuk kendaraan air.

Wednesday, April 6, 2011

Wahyu dan Mamaknya

Kita punya banyak pengalaman masa lalu untuk diceritakan, tapi anak-anak memiliki masa depan untuk diperjuangkan.





Cuaca panas menghentikan perjalanan kami menggunakan motor jenis trail di warung pinggir jalan kawasan taman wisata Gaul di Palangkaraya. Warung semi permanen terbuat dari kayu isi dengan berbagai makanan dan minuman ringan dalam kemasan plastik dan botol. Pilihan saya jatuh pada kelapa muda yang tersaji dalam gelas.


Seorang anak, yang mengaku nama panggilannya Wahyu berbicara dengan Peter menggunakan bahasa Dayak . Berusaha memahami isi pembicaraan ternyata ia menawarkan biawak hasil tangakapannya di rawa-rawa belakang warung. Ia anak pemilik warung itu. Karena terbungkus karung plastic, saya tidak bisa melihat rupa hewan tangkapannya. Menurut pengakuan pemilik nama lengkap Wahyu Supriadi ini berumur 11 tahun. Kegiatannya hanya bermain di rawa-rawa belakang warung tempat ibunya berjualan sekaligus tinggal. “Saya hanya sekolah sampai kelas empat, karena sering pindah-pindah ikut orang tua mencari nafkah” kata Wahyu. Rupanya orang tuanya harus pindah-pindah dengan membangun warung baru demi mencari penghasilan dan bertahan hidup. Jarak perpindahannya tidak jauh, hanya dalam wilayah satu kecamatan Bukit Batu.


Menurut Pemerintah Kota Palangkaraya , kecamatan Bukit Batu luasnya 572,00 Km. Bisa jadi perpindahan dalam satu wilayah kecamatan jaraknya jauh. Memang maksud hati orang tuanya bagus untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi pendidikan Wahyu terabaikan. Wahyu pada usia harus sekolah terpaksa tidak sekolah karena tiada saran transportasi yang menjangkau sekolah lamanya dan disekitarnya tidak ada sekolah. Namun semata-mata tidak ada sekolah, tapi perjuangan orang tuanya untuk mempertahankan hidup berdampak pada masa depan Wahyu. Sungguh kehidupan yang rentan.


Coba kita perhatikan diagram dibawah ini. Situasi yang rentan lebih dimampukan dengan adanya program ekonomi yang jelas memampukan orang tua Wahyu dan mungkin orang tua lainnya. Secara fisik mereka anak yang gisinya cukup. Palangkaraya berlimpah ikan dan sayur rotan konon memiliki kandungan protein yang tinggi. Paling tidak sejak kecil mereka sudah mengkonsumsi makanan itu. Tidak ada yang salah dengan nutrisi mereka. Situasi Wahyu dan Wahyu lainnya harus ada yang memikirkan. Impian saya disana banyak lahan yang bisa digunakan sebagai lapangan bola, kita dididik mereka dengan berbagai pengetahuan dan sepak bola. Berharap dari Palangkaraya lahir pemain sepak bola tangguh. Ayo Kak!!

Monday, April 4, 2011

Aceh, Mulai Resto Sampai Kaki Lima

Tidak telalu lama, hanya seminggu menginjakkan kaki di Aceh. Kapan pastinya saya ke Aceh juga tidak terekam dengan baik. Tapi yang pasti hari kedatangan saya bersamaan dengan Hasan Tiro pulang kampung pertama kalinya. Lautan manusia menanti kedatangan sosok yang dijulik Wali Aceh.

Ingatan terhadap Aceh bukan hanya itu saja. Tempat-tempat yang menyajikan makanan di Aceh juga menimbulkan kangen. Saya coba mengingat, meski tanpa klasifikasi yang jelas. Mulai yang resto, sampai kelas kaki lima.

1. Padang Bunda. Rumah makan Padang yang konon masih satu pengelola dengan Pante Pirak ini harganya selangit, tapi terbalas dengan cita rasa yang disajikan.
2. Resto Banda. Satu lagi rumah makan yang harganya selangit, tapi kepiting saus aceh rasanya ‘ciamik soro’. Kalau bisa makannya rame-rame. Maksudnya biar ringan memikul tagihannya.
3. Sate Matang. Di pusat makanan Rex, depan Hotel Medan dapat ditemui. Sate matang bukan berarti ada sate yang mentah. Matang adalah nama daerah di Aceh.
4. Mie Kepiting. Tempatnya masih sama, di Rex, tepatnya pojokan Pace Bene.
5. Ayam Tangkap. Secara cara masak seperti ayam goreng biasa. Tapi ada beberapa bumbu yang sengaja tidak dihaluskan dan daun jeruk digoreng. Hasil akhirnya daun jeruk berasa seperti kripik. Jangan kaget ukuran potongannya kecil-kecil. Mungkin satu ekor dipotong jadi 30-40.
6. Kopi Taufik, daerah kampung Mulia. Sering saya kunjungi karena kantor saya di Aceh juga daerah kampung Mulia. Relatif sama semua kopi Aceh. Sebenernya ada juga satu yang pernah saya kunjungi beberapa kali. Namanya Pocut Baren, patokannnya dekat GPIB. Sambil ngopi, cemilan andalan roti srikaya dan tak ketinggalan bisa menikmati aksi barista menyajikan kopi.

Yang terakhir ini bukan saja tempat minum kopi dan nongkrong. Tapi banyak hal yang dibicarakan oleh mereka. Mulai dari hal yang bersifat pribadi, bisnis, sampai keurusan politik.Mungkin kalau lebih lama disana saya bisa merekomendasikan makanan yang lain.

Thursday, May 27, 2010

Juara Baru ISL 2009/2010

Menurut logika saya, setiap akhir dari pertandingan atau kompetisi akan selalu mendebarkan. Apapun itu bentuk pertandingannya, apapun itu kompetisinya. Akan lahir pemenang baru atau juara bertahan. Sengit bila ada dua bakal juara yang saling bersaing untuk ditahbiskan sebagai juara.

Perebutan tempat juara antara Persipura dengan Arema sudah dipastikan kemarin lewat laga PSPS Pekanbaru melawan Arema Indonesia. Hasil imbang 1-1 memastikan Arema sebagai juara. Memang seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, Arema akan juara tahun ini.

Gelar terakhir masing-masing, dua kali juara copa untuk Arema dan juara ISL untuk Persipura. Masing-masing pernah mewakili Indonesia diajang Champion Asia. Tapi hasil tidak memuaskan lagi-lagi diraih keduanya. Banyak pembenahan dan cara dilakukan keduanya agar bisa eksis di liga antar klub Asia itu. Mulai pembenahan infrastuktur lapangan, manajemen tim, hingga belanja pemain tim. Persipura mempertahankan komposisi pemain terbaik ketika meraih gelar juara LSI dengan menambah beberapa pemain berkualitas baik ukuran Indonesia. Sebelumnya juga Arema ketika masih dikelola PT. Bentoel, rela merogoh saku sangat dalam untuk mendapatkan pelatih sekelas Miroslav Janu, sepaket dengan pembantunya Tony Ho dan Herman Kadiaman. Ditambah beberapa pemain sekelas Ponaryo Astaman, Ellie Eiboy, Hendro Kartiko, Ortiz Sallosa dan seterusnya. Namun toh keduanya masih sulit menembus babak yang paling bergengsi dari kompetisi itu. Bahkan Arema dengan komposisi terbaiknya gagal mengulang prestasi terbaik di Copa Indonesia. Kesulitan menghadapi tim sekelas Persekabpas Pasuruan, Persiba Bantul dan Persibo Bojonegoro. Siapa saja boleh mewakili Indoensia di Liga Champian Asia, tapi jagalah martabat bangsa dengan tidak menjadi lumbung gol dari tim-tim negara China, Korea, Jepang dan lainnya.

Biasanya redaktur olah raga tiap media memfokuskan pada perebutan juara. Tak terkecuali mereka memburu komentar dari masing-masing tim yang bersaing dan pengamat bola. Saya tetap menunggu tulisan paling cerdas dari tim redaksi olah raga tiap media dan pernyataan paling cerdas serta patut menjadi panutan dari Jackson F. Tiago, pelatih Persipura dan Robert R. Albert, pelatih Arema. Saya teringat penyataan Fergie, manager MU tentang Chelsea yang menjadi pesaingnya mampu mengalahkan Liverpoll. Ia mengatakan gol Drogba sebagai hadiah karena kegagalan Gerraard melakukan backpass kepada kiper Pepe Reina, backpass itu tak ubahnya sebagai umpan matang ke penyerang asal Pantai Gading. Saya pikir apakah itu hadiah atau bukan hanya Gerarrd dan Tuhan saja yang tau. Tapi yang jelas seperti yang dikatakan salah satu pesohor sepak bola Belanda, sepak bola selalu dipenuhi dengan kesalahan-kesalahan, oleh karena itu perlu diminimalisir.

Meskipun ada indikasi sebuah kesengajaan, tapi usaha keras untuk menjadi juara perlu ditunjukkan. Pengaturan nilai dan hasil pertandingan sepak bola memang bisa saja diindikasikan di tiap kompetisi pada semua tingkatan. Bahkan di Indonesia sendiri pernah ternoda dengan adanya sepak bola gajah dan suap. Namun pembuktiannya sangat sulit, seandainya semua aparat penegak hukum maupun komisi-komisi yang berwenang dalam masalah hukum dikerahkan belum tentu bisa mengungkap kasus suap. Kata teman saya, ”suap itu seperti kentut, ada baunya tapi sulit membuktikan siapa yang melakukannya”. Separah itukah sepak bola Indonesia? Terlepas siapa nanti juaranya, berharap kompetisi lebih baik dalam segala hal. Masak sih di Indoensia ini bila ada beberapa orang benar yang terlibat langsung sepak bola tidak bisa membuat olah raga yang paling banyak penggemarnya ini bisa lebih baik, apalagi mampu berprestasi di Internasional?

Wednesday, April 21, 2010

Ibu Kita Kartini

Entah karena lupa atau melewatkan informasi dari Jeyson dan Lia. Pagi ini Jeyson bersiap ke sekolah tanpa seragam sekolah. Kemeja batik dan celana jeans biru yang ia kenakan. Singkat cerita, ternyata ada peringatan Hari Kartini di sekolah Jeyson. Sampai di sekolah tampak riuh para siswa yang menggunakan batik, sedangkan para siswi menggunakan baju adat Indonesia. Senyum dan lucu melihat anak-anak memperingati Hari Kartini. Sepertinya bukan hanya anak-anak taman kanak-kanak yang sibuk. Dinar, adik saya yang bekerja di salah satu bank swasta nasional dalam status Facebook-nya menulis, ’ini lagi siap-siap dirias’. Rupanya dia diwajibkan mengenakan busana daerah dan menggunakan make up khusus.

Hari Kartini yang selalu diperingati pada 21 April merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Dimana pada 1879 di kota Rembang lahir Raden Ajeng Kartini. Hingga kini perjuangannya diperingati karena mengangkat emansipasi perempuan. Ia membuka sekolah bagi para perempuan dari seluruh strata. Karyanya berjudul DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang” sangat populer. Karena perjuangannya dikenang oleh Bangsa ini. Dikenang dengan harapan untuk selalu memberikan inspirasi bagi gerenerasi saat ini.

Memang setiap peristiwa memilik jamannya masing-masing. Ketika Kartini jaman dahulu mendobrak tingkap-tingkap pembatas gender. Namun saat ini diarahkan pada hal-hal yang lebih nyata untuk membuktikan bahwa perempuan bukanlah warga kelas dua.

Bukan bermaksud untuk menggugat cara memperingati Hari Kartina dengan cara berkebaya ria dan memakai pakaian adat Indonesia lainnya. Namun paling tidak penghormatan kepada Kartini juga memberi inspirasi bahwa perempuan juga mampu penolong bagi laki-laki. Seraca fisik memang berbeda. Tapi jika diteliti lagi, ada ditemui bahwa sifat atau ciri perempuan juga ada pada laki-laki, seperti menangis, melankolis, manja, dan seterusnya.

Saya memiliki pengalaman dibesarkan oleh seorang orang tua tunggal, yakni ibu saya karena ditinggal meninggal oleh papa. Beliau ternyata cukup bisa menjalankan fungsi sebagai orang tua, meskipun tidak selengkap dan seideal jika ada papa. Sekali lagi kondisi saya saat ini karena anugerah Tuhan yang mendengar dan melihat tetesan air mata beliau saat berdoa. Ternyata air mata menjadi sumber kekuatan untuk berharap kepada kuasa yang lebih besar.

Pengalaman lain, ketika Gadis lahir melalui operasi cesar, saya sengaja minta ijin dokter Sutyoso untuk ikut proses operasi. Ternyata ada pertaruhan yang harus Lia jalani ketika proses persalainan itu terjadi. Demikian juga pada saat pemulihan operasi dan menyusui, ada kesulitan yang harus ia hadapi. Memang hanya Bunda Maria yang bisa mengandung tanpa melalui proses persetubuhan. Tapi secara normal, tanpa kehamilan dan persalinan oleh seorang ibu, maka tidak ada bayi lahir di dunia ini.

Dalam sebuah teori yang digunakan untuk pengembangan masyarakat, ditemukan bahwa perempuan sebagai istri dalam rumah tangga lebih mampu memberikan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Ketika suami sudah bekerja dengan maksimal dan perekonomian belum menunjukkan perubahan, maka perempuan saatnya untuk muncul sebagai penolong.

Selain itu perempuan juga memeiliki wisdom tersendiri yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Selain dalam keluarga, saya dikantor saya juga bekerjasama dengan dua orang perempuan yang sangat hebat. Mereka sangat hebat dalam memberikan masukan untuk kemajuan departemen dan juga lembaga.

Semoga peringatan Hari Kartini tidak memberikan inspirasi pada sebuah kesadaran akan persamaan gender saja, tapi juga menjadi penolong bagi sesama. Seperti yang dikatakan oleh Lemuel, raja Masa tentang istri dan perempuan, ”ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya”. Selamat Hari Kartini dan berdiri teguh sebagai salah satu kekuatan utama kepada perempuan Indonesia.

Segarnya Nonton Bola

Laga penting Arema menjamu Persebaya di Kanjuruhan, pada 21 February 2010 menghadirkan pengalaman baru bagi saya. 3 hari sebelum kick off dimulai, saya sudah memesan tiket pada salah satu agen resmi yang ditunjuk panitia penyeenggara pertandingan. Tapi itu belum jaminan untuk bisa duduk di tribun dengan nyaman. Ketentuan pada pemesanan tersebut adalah menukarkan tanda bukti bayar dengan tiket sebelum pukul 12.00 WIB. Namun berita buruk datang dari seorang teman yang saya minta tolong untuk menukar tiket bahwa tiket VIP dan VVIP dibatalkan oleh panpel PT. Arema Indonesia. Weits.. sejurus informasi tersebut mendorong saya untuk berburu tiket pada calo karena counter resmi tidak mungkin memiliki stok. Alhasil saya mendapat tiket yang sudah melambung hampir lima puluh persen dari harga resmi. Itupun setelah melakukan tawar menawar yang alot dengan beberapa calo.

Saya dan Jeyson datang di tribune VIP tiga jam sebelum pluit pertandingan ditiup, sehingga masih bisa memilih tempat duduk yang nyaman. Semakin lama penuh juga tribun ini. Tanya kanan kiri, depan belakang, ternyata mereka semua membeli dengan harga yang sudah melambung dari harga normal. Bisik saya daam hati, ”pasti akan lebih dari 1 M pendapatan panpel kali ini, mengulang sukses derby lawan Persema” Memang derby melawan Persebaya selalu mengundang penonton. Baik itu di Tambaksari-Surabaya, maupun Gajayana atau Kanjuruhan – Malang. Tidak peduli berapapun harga, tetap saja tribune dipenuhi penonton.

Saya tidak tidak mau terlalu ribet dalam berhitung, seperti pola perhitungan jasa telekomunikasi akhir-akhir ini. Jika saya menggunakan cara perhitungan yang paling gampang seperti yang biasa digunakan oeh pedagang bawang merah atau lombok di pasar, paling tidak setiap orang yang duduk di tribune VIP harus menghabiskan lebih dari 100,000-150,000 rupiah. Kecuali yang masuk dengan gratisan dan dibayari oleh pacarnya. Hehehe..... Paling tidak mereka harus membeli tiket seharga 100,000 dan membayar ongkos kendaraan, parkir dan makan minum untuk mengganjal perut. Kalau saya mengubah jumlah katakanlah yang paling besar pengeluarannya 150,000 rupiah dalam USD, pada saat saya menuliskan ini dengan perhitungan melalui oanda.com, maka akan mendapatkan USD 16.60. Jumlah tersebut jika berdasarkan standart hidup yang ditetapkan oleh UNDP sebesar USD 2 per hari tiap orang. Maka jumlah tersebut bisa digunakan hidup selama 8 hari oleh satu orang.

Dari segi penampilan, penonton di tribune VIP dan VVIP juga seperti kebanyakan pengunjung di pusat-pusat perbelanjaan pada umumnya. Tentengan perangkat komunikasi canggih dengan model qwerty pad baik itu smartphone dari berbagai merek, maupun BlackBerry yang sesungguhnya atau jadi-jadian bagi penonton bola bukan hal yang jarang ditemui. Baik saat sebelum pertandingan dimulai atau jeda, kesibukan penonton bukan hanya ngemil, tapi juga update status dalam situs jejaring sosial terkenal seperti Facebook atau Twitter. Lagi-lagi disini penyedia jaringan diuntungkan karena jasanya banyak diminati.

Kenyataan tersebut tidak mampu menghapus perilaku yang tidak sepadan dengan penampilan. Masih banyak juga yang mengucapkan makian dan ungkapan bernada rasis saat public enemy, yakni Persebaya masuk lapangan. Saya juga marah saat ada perlakuan kasar terhadap pemain Arema. Saya juga dongkol saat wasit tidak meniup peluit meski ada pelanggran. Tapi mulutmu harimaumu. Semoga pemandangan yang saya lihat bukan cerminan yang ada di luar stadion. Penampilan kelas tinggi, tapi kelakuan masih rasis.

Wednesday, February 17, 2010

Diskonan Buku di Awal Semester

Januari-Februari adalah kebiasaan rata-rata perguruan tinggi memulai semester genap. Mahasiswa persiapan mengahdapi mata kuliah baru, atau bahkan mengulang mata kuliah yang nilanya gugur. Senada dengan kebiasaan itu, mahasiswa pada sebuah sekolah teologi di Batu juga bersiap dengan buku bacaan wajib dan pendukung.

Bagi penerbit buku teologi yang di Indonesia jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan dilihat sebagai moment yang tidak bisa dilewatkan untuk melakukan jemput bola untuk memenuhi demand mahasiswa.

Penerbit buku yang menerbitan penulis asli Indonesia dan hasil terjemahan penulis asing tersebut menawarkan dengan diskon 30%. Model penjualan yang lumrah diakukan oleh penerbit. Pilihan penerbit untuk memberikan nilai lebih pada pembeli adalah dengan diskon. Namun fakta membuktikan sumber pembiayaan mereka adalah dari orang tua, pribadi atau lembaga. Sangat jarang mahasiswa teologi yang tinggal di asrama dapat melakukan side job untuk mendapatkan tambahan biaya memenuhi kebutuhannya. Hidup sederhana dan bersahaja adalah model sekolah teologi yang mewajibkan mahasiswanya tinggal di asrama. Jika ada yang berlebihan tentunya itu anugrah, dan prinsip berbagi dengan tentunya harus dipraktekkan dalam hidup berteologi sejak di kampus.”Mengapa tidak memilih cara yang lebih kreatif?”, pikir saya. Mungkin bisa diasumsikan yang mampu membeli buku untuk sebuah prestise, karena ikut-ikutan sesama mahasiswa beli buku dan memenuhi rak buku di masing-masing kamar asrama. Tapi bagi yang tidak memiliki cukup biaya, tapi memang benar-benar tertarik untuk belajar dan tahu isi pikiran penulis hanya bisa menelan air liur dan berharap ada teman yang mau meminjamkan. Memang perjuangan untuk menjadi sarjana teologi sangat berat. Usaha akhir yang bisa dilakukan adalah meminjam di perpustakaan jika selalu memperbarui koleksi bukunya, atau bisa juga kepada dosen.

Nilai lebih dengan pemberian diskon bagi mahasiswa dan penerbit itu sendiri kurang terasa gregetnya jika dibandingkan dengan pemberian buku secara langsung dan gratis kepada mahasiswa yang memang berminat untuk baca. Biasanya mahasiswa jika menyampaikan pendapatnya di kelas suka melandasakan pada literatur yang dia baca. Jadi secara tidak langsung proses branding telah dimulai ketika itu. Jadi benefitnya adalah, penerbit ikut ambil bagian dalam membantu proses belajar mahasiswa, penerbit tidak perlu menjatuhkan image bahwa buku teologi adalah identik dengan diskonan, dan terakhir belajar teologi adalah suatu prestise tersendiri karena dari segi keilmuan tidak kalah dengan disiplin ilmu yang lain. Hal yang lebih signifikan adalah melakukan approaching dengan sponsor mahasiswa.

Monday, February 15, 2010

Derby Malang, Pertamanya Kami

15 hari sudah meninggalkan bulan Januari 2010. Namun tersisa kegilaan yang telah saya lakukan bulan lalu. Salah satunya berduaan dengan Jeyson menyaksikan partai derby Arema melawan Persema pada 10 Januari. Partai itu melahirkan fakta:

  1. Arema menang 3-1 atas Persema. Meski sebelumya sempat tertinggal 0-1 akibat salah komunikasi barisan pertahanan Arema di menit 15 oleh Jairon Feliciano.

  2. Panpel Arema memecahkan rekor pendapatan dari partai tersebut dengan tembus angka 1 Milyar.

  3. Panpel masih menjalani proses banding atas tuduhan penyuapan terhadap sangsi hukuman komdis PSSI akibat rasisme dan penonton yang meluber hingga ke lapangan.
    Untuk pertama kalinya untuk Jeyson duduk di tribun sepak bola.

Menyaksikan sepak bola secara langsung di tribun bersama anak seumuran Jeyson (5 tahun) ada tantangan tersendiri. Berikut beberapa tips yang akan saya bagikan:

  1. Berikan pemahaman pada si kecil bahwa harus memiliki tiket saat akan masuk stadion.

  2. Pastikan bahwa si anak cukup paham tim apa yang akan berhadapan. Misalnya warna kostum tim yang akan berhadapan.

  3. Tunjukkan waktu pada jam tangan atau telpon genggam saat kick off akan dimulai. Biasanya anak merasa bosan, oeh karena itu perlu diberitahu jam akan mulai dan berakhirnya.

  4. Perhatikan saat feeding dan sleeping untuk si kecil. Kalau lengah bisa gawat dan bisa-bisa ngambek. Kalau memang ngantuk harus kita pangku demi kenyamanan kita menonton. Pastikan untuk membawa makanan kecil dan minuman untuk si kecil.

  5. Pastikan mudah untuk mencapai akses ke kamar kecil. Kalau hanya berdua si kecil, jangan lupa menitipkan tempat duduk Anda ke penonton di sebelah kalau tidak mau diserobot orang lain. Harap diingat disini tiket sepak bola tidak ada seat number.

  6. Anda harus paham tim lawan yang menjadi public enemies suporter karena sangat mungkin muncul cemoohan, makian dan hujatan. Partai ini yang menjadi musuh utama adalah Suroso, mantan defender Arema yang saat ini berkostum Persema. Ada teriakan, ”Suroso J!@##k”. Si kecil tentunya mendengar, namun tentunya samar. Pengalaman saya, Jeyson bertanya, ”Mengapa Suroso di bilang Ngantuk?” ”Ya, dia selalu salah passing bola” jawab saya. Jadi Pandai-pandailah memelesetkan setiap makian. Si kecil pasti mudah menyerap setiap suara di stadion. Kalau memang si kecil sempat menangkap dengan jelas, berilah pemahaman yang benar tentang perilaku tersebut. No Racism. (yang ini PSSI perlu menjelaskan lagi tentang rasisme, karena ungkapan pisuhan dalam masyarakat sudah lumrah)

  7. Terakhir adalah bersiap memberi pemahaman bahwa kalah menang di pertandingan itu biasa. Mendukung tim kesayangan bukan berarti merusak. Jika kalah akuilah dengan legowo. Jika menang syukurilah itu sebagai anugrah, kerja keras dan jangan jumawa.

Mengutip pernyataan seorang rekan pendukung Liverpool, ”Mendukung tim kesayangan saat menang adalah biasa, tapi mendukung saat tim terpuruk menunjukkan karakter kita sesungguhnya.” Berharap kita berdua bisa ada lagi di tribune Kanjuruhan tanggal 21 Februari saat Arema melawan Persebaya, tim asal Surabaya, kota kelahiranku. Satu Jiwa - Arema Indonesia

*saya dedikasikan untuk jagoanku, Jeyson Marhens Prasetyo

Jaga Hati, Jaga Perasaan

Siswi kelas 2 salah satu SMP di Surabaya dan laki-aki berinisial Feb menjadi bahan pemberitaan beberapa media akhir-akhir ini. Perkenalan dua lawan jenis melalui situs jejaring sosial berbuntut pada pelaporan kepada berwajib oleh orang tua karena telah menghilang beberapa hari. Pada usia belia mereka menunjukkan ekspresi ketertarikan kepada lawan jenis dengan meninggalkan orang tuanya dan membuat orang-orang terdekatnya mengalami kesulitan untuk mencari keberadaan siswi tersebut.

Kisah itu layaknya di film Romeo-Juliet atau Sam Pek Eng Tay. Banyak sekali keputusan atau tindakan kita diambil oleh rasa cinta. Dengan alasan cinta, pendukung tim sepak bola bisa membuat kerusuhan. Dengan alasan cinta, kelompok demonstran peneriak keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat melakukan pengrusakan. Masih banyak lagi tindakan yang diambil dengan alasan cinta dan kasih namun berujung pada tangis dan hilangnya damai sejahtera itu.

Hati yang berkenan dihadapan Allah Bapa menjadi dasar kita untuk melakukan segala sesuatu. Hati adalah sumber keinginan dan keputusan. Lalai dalam menjaga hati kita akan mengakibatkan kita menyimpang dari jalan yang aman dan terjebak dalam jerat pembinasaan (Ams 7:24-27); menjaga hati kita melebihi segala sesuatu menghasilkan hidup yang mantap pada jalan yang rata karena perkenan dan kasih karunia-Nya (
Ams 4:25-27). Ungkapan kasih dan cinta kita juga seharusnya terlahir dari hati yang tertulis dalam Amsal. Sehingga jika ungkapan itu membuahkan rasa sakit, maka itu akan mendatangkan kebaikan bagi yang menerimanya. Sebaliknya jika ungkapan itu terasa menyenangkan, maka itu bukan dari buah kepura-puraan.
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan - Amsal 4:23