Friday, May 11, 2012

Polisi, Angkot dan Sopir Sarjana

Akhir ini banyak pertanyaan denga tidak hadirnya Polisi dalam setiap peristiwa. Mulai dalam peristiwa geng motor, langgar rambu lalu lintas sampai pembubaran paksa sejumlah forum diskusi oleh sekelompok orang.

Tapi saya mengalami di mana saya lengah, eh malah ada polisi dan saya jadi gagal paham dengan situasi itu :)

Siang yang panas dan jalan yang tidak padat di sepanjang jalan dari terminal Bratang ke perempatan Bratang Bingangun. Memang enak antri lampu lalu lintas berganti hijau di bawah rimbunya pohon. Tapi angkot warna merah bata ini tidak segera bergerak maju meski lampu sudah hijau sebagai tanda bisa jalan dan saya klakson ulang-ulang. Tujuannya sih mulia, untuk tunggu penumpang. Tapi kalau orang lain susah dan dua kali tunggu lampu lalu lintas berganti warna hijau ini keterlaluan karena hanya angkot ini yg di depan dan saya tidak bisa bergerak maju atau ambil jalur sebelah kirinya. Mau ambil kanan sudah berjejer warung soto dan nasi goreng Lamongan dengan kualitas kalau 1 sampai 10 nilainya tujuh itu.

Alhasil saya harus tunggu angkot itu jalan, meski lampu sudah merah lagi. Jadi singkatnya saya dengan mobil yang saya tumpangi dan angkot merah itu sama-sama jalan meski lampu lalu lintas sudah merah. Angkot pun meluncur tenang dan pelan dengan harapan dapat penumpang. Sebaliknya saya harus berhenti karena ada polisi karena saya melanggar. Seharusnya saya kalau tahu ada polisi tetap aja menunggu sampai lampu berubah hujau lagi. Entah di mana sembunyinya. :)

“Selamat siang Mas” sapa Polisi yang saya lupa pangkatnya apa

“Siang Pak” singkat jawabku sambil geram dalam hati

“Wah, sepertinya sampeyan keburu-buru ya, bisa lihat surat-suratnya?”

“Nggak Pak, angkot depanku aja yang hijau malah berhenti, merah malah jalan” sambil serahkan SIm dan STNK, sambil lirik dompet just in case saya harus ada unexpected expenses di tempat supaya jumlahnya pas, tapi urusan lancer

“Angkot iku sampeyan lolos’no, aku sampeyan tangkep” (angkot itu anda loloskan, tapi saya anda tangkap”, saya mulai dialog dengan pak Polisi

“Lha, sampeyan iku yo opo Mas, sampeyan iku sarjana kok nuruti sopir gak lulus SD” (Anda itu bagaimana, sarjana kok ikuti supir yang gak lulus SD, jawab pak Polisi

Jleb, saya mulai sadar dan tertawa dengan diri sendiri.

“Ya sudah, jangan diulang lagi ya Mas, jangan diulang lagi” nasihat pak Polisi sambil kembalikan SIM dan STNK. Kemudian ia mengarahkan mobil saya untuk segera jalan sambil memberi tanda kepada mobil lain agar pelan.

“Iya Pak, maaf ya Pak, terima kasih” jawabku setengah malu sambil menutup kaca jendela mobil.

Thursday, May 3, 2012

Ini Budi, Budi Belajar Membaca - Belajar Mengajar Calistung

Gagal mengajarkan yang baik itu biasa, tapi jangan pernah gagal melakukan yang baik.

Mengajar anak-anak ada gampang-gampang susah. Segala sesuatu bisa saja terjadi dalam kelas. Pernah sekali saya mengajar dalam kelas pra sekolah, di tengah saya menjelaskan sesuatu, seorang siswa nyeletuk, “Kak Jo jarinya besar-besar”. Kontan konsentrasi saya buyar, materi yang sudah disiapkan hilang dan seperti at a loss for words . Sahabat Anak, dalam training CALISTUNG pada 21/04/2012 yang difasilitasi Saulina S, S.Sos. Training yang diikuti oleh voluntir Sahabat Anak dan pemerhati anak ini diingatkan kembali pentingnya PERSIAPAN, KOMITMEN, dan DISIPLIN bagi guru dalam mengajar. Situasi apapun dapat dihadapi dengan hati yang siap, memiliki komitmen dan displin.

Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna, dan manusia satu-satunya mahluk yang dapat membaca. Membaca merupakan fungsi yang paling penting dalam hidup dan dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Dalam kasus khusus tidak bisa membaca bisa raih sukses. Kita perlu bersyukur bagi penyandang tuna netra juga difasilitasi dengan huruf Braille. Bayangkan saja jaman sekarang seseorang tidak memiliki kemampuan baca? Mungkin sosial media tidak akan ramai seperi sekarang. Menurut pengakuan seorang voluntir Sahabat Anak, pernah seorang anak padfa usia pada saat itu 9 tahun tidak bisa baca. Lama tak bertemu, terakhir mereka bertemu lewat media sosial. Rupanya si anak yang sudah tumbuh dewasa dan bekerta sebagai tukang ojek aktif update status dan bertegur sapa yang tak lain menggunakan sarana tulisan. Lumayan juga pengaruh Facebook.

Menurut Lina, begitu biasa dia disapa, anak ketika sudah berbicara sudah bisa diajarkan abjad dan mengeja. Namun prinsip hak anak tetap harus dikedepankan, yakni tidak ada pemaksaan. Mengajar Calistung yang umum digunakan yakni metode Glenn Doman. Secara umum cara yang digunakan antara lain:

  1. Pembiasaan dengan memberi tugas-tugas sederhana dan menarik.
  2. Pemberian penguatan dalam bentuk pujian kepada anak.
  3. Menggunakan metode Tanya jawab, membuat kalimat atau bisa juga lawan kata, bernyanyi, praktek langsung dengan menggunakan bahasa Indoensia yang benar, bermain peran, story telling, dan mengungkap syair.

Mengikuti aktifitas ini sangat menarik, saya masih merasa ciut jika harus mebgajar anak-anak balita. Paling tidak rasa percaya diri itu sudah mulai ada. Saya salut dengan Sahabat Anak yang perjuangkan kebutuhan dasar anak, diantaranya kesehatan, pendidikan partisipasi dalam masyarakat. Anak-anak yang mereka dampingi rata-rata yang akrab dengan aktifitas dijalan, entah untuk mengamen, memulung, pengasong dan lainnya. Kehadiran SA dengan bimbingan belajar di beberapa wilayah di Jakarta (Manggarai, Gambir, Grogol, Cijantung, Prumpung, Kota Tua, Tanah Abang, Mangga Dua) membawa harapan pada mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna ini representasi rupa dan gambar Allah. Ada kisah anak-anak dampingan yang datang dan pergi di kelompok belajar mereka, tapi berkat dukungan warga sekitar, anak-anak dimotivasi orang tuanya untuk datang. Pelayanan SA tidak semua berhasil, ada kisah gagal mengajarkan yang baik itu biasa, tapi jangan pernah gagal melakukan yang baik.

Thursday, April 26, 2012

KICK IN THE MIXnya Messi, Torres, Lampard dan Drogba

“Football is about making mistakes. Who makes the most, loses the game”, kata Johan Cruyff

Bermain cantik, lebih unggul penguasaan bola, unggul jumlah pemain dan pemain sekelas Messi tidak cukup untuk membawa Barca lolos ke final Liga Champion. Memang menumpuk pemain di daerah pertahanan, bagai menutup gawang dengan kontainer tidak ada yang salah dalam sepak bola untuk mempertahankan kemenangan seperti yang Chealsea. Tim yang paling sering melakukan kesalahan akan kalah dalam pertandingan.

Messi dan Drogba seakan menunjukkan kemampuan terbaik seperti dalam iklan televisi Pepsi versi Kick In The Mix. Iklan dengan konsep konser musik dan sepak bola. Tapi konser music tetap konser musik. Sepak boila tetap sepak bola di mana setiap pertandingan ada kisah kalah dan menang. Bagi Messi tentu kecewa, tapi untuk Torres, drogba, dan Lampard senang bisa mengantar timnya lolos ke final. Tapi dalam iklan Pepsi ini siapa?



Lebih keren mana iklan televisi ini atau semi final Liga Champion antara Chelsea vs Barcelona? :)

Doksologi di Ibadah Paska Subuh

Ibadah Paska Subuh di halaman gereja diakhiri dengan doksologi, mengambil saat teduh dan dilanjutkan dengan jabat tangan oleh seluruh jemaat. Lamat-lamat dari jauh terdengar kumandang adzan subuh dari masjid. Indahnya Indonesia!!

Setelah melewati masa disebut triduum (trihari kudus) yaitu Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Sunyi. Saya, Lia, dan Jeyson mengikuti ibadah Paska Subuh di GKI Depok. Sementara Gadis di rumah dulu karena masih terlalu pagi untuk dia karena akan kegiatan khusus untuk seusianya pada pukul sepuluh. Ibadah Paska Subuh didahului dengan rangkaian masa prapaska sepanjang 40 hari. Hitungannya 6 minggu kali 6 hari ditambah 4 hari, jatuh Rabu yg disebut Rabu Abu. Rabu Abu diisi denga doa pertobatan dan dimaknai sebagai awal puasa. Biasanya dahi diolesi abu yang berasal dari daun palma dari Minggu Palmarum tahun lalu. Minggu Palmarum atau disebut juga minggu sengsara (minggu keenam pra paska), mengenang saat Yesus masuk ke Yerusalem dengan menaiki keledai beban muda disambut dengan daun palma. Lebih detailnya hal itu diatur dalam masa Paska dalam Tahun Liturgi. Gereja barat dan timur merayakan paska pada tanggal berbeda. Gereja Timur memakai sistem Julian pada 5 Mei dan Gereja Barat menggunakan sistem Gregorian pada 8 April. Sejarah panjang kehidupan gereja yang menjadikan lahirnya keberadaan Gereja Timur dan Gereja Barat. Usaha menyamakan tanggal paska timur dan barat terus diusahakan memang belum berhasil, namun kesadaran ke arah sana makin membesar.

Ibadah tidak dilakukan dalam gedung seperti biasanya, tapi dilakukan di pelataran gereja. Pagi yang diselimuti gelap ini merujuk pada peristiwa di Alkitab, di mana Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, dan Salome datang ke kubur Yesus. Mengapa tiga wanita itu? Kemana para laki-laki yang gagah perkasa membela Yesus dengan memotong telinga saat tentara Romawi menangkap? Kemana orang-orang yang berteriak, “Hosana” ketika beliau masuk Yerusalem? Hosana berarti "selamatkanlah kami" ... diteriakkan oleh orang banyak yang beberapa hari sesudahnya berteriak "salibkan Dia" . Kemanakan para murid yang selalu menyertaiNya selama ini? Menarik untuk memperhatikan keberadaan tiga wanita yang karena cintanya kepada Kristus dengan segala kesadaran dan nalurinya datang ke kubur di saat yang lain dalam ketakutan. Kedatangan mereka ke kubur Yesus mendapati pintu kubur terbuka dan Yesus sudah bangkit. Bukan hanya dalam peristiwa itu, mungkin jaman sekarang kita juga perlu perhitungkan keberadaan wanita yang identik dengan sosok yang lemah dan penakut. Namun dalam renungan pagi itu sebaliknya, yakni sosok yang memiliki kesadaran yang tinggi akan sebuah tanggung jawab dan kemampuan untuk memikirkan hal-hal yang tidak dipikirkan oleh laki-laki. Pada jaman sekarang kesadaran berbagi tanggung jawab dan memberi ruang pada wanita akan itu semakin besar. Kubur kosong bukan sekedar dimaknai laksana recital sebuah drama biasa, tapi memberi harapan ditengah para murid yang hopeless diganti harapan baru. Bukankah kita juga selalu wishful ada yang lebih baik dari sekarang?

Ibadah Paska Subuh kami akhiri dengan doksologi, mengambil saat teduh dan dilanjutkan dengan jabat tangan oleh seluruh jemaat, lamat-lamat dari jauh terdengar kumandang adzan subuh dari masjid.Mungkin ini jarang ditemui di negara lain selain di Indonesia. Indahnya Indonesia!!

Saturday, April 14, 2012

Saya (juga) Perlu Belajar Kepentingan Terbaik Anak

Anak yang berhadapan dengan hukum mayoritas merupakan anak yang memiliki orang tua. Orang tua mereka rata-rata bekerja, dan mayoritas dari mereka memiliki kejelasan tempat tinggal serta masih tinggal bersama orang tua mereka. Rata-rata anak yang menjalani proses hukum lahir dari keluarga yang kurang mampu, ini dilihat dari pekerjaan orang tua mereka yang rata-rata adalahpekerjainformal yang bergerak di kelas bawah. Demikian paparan peneliti LBH Jakarta Restaria F Hutabarat.

“Dalam penelitian kami, keberadaan orang tua, 4 persen tidak memiliki orang tua, 96 persen memiliki orang tua. Orang Tua bekerja, 17 persen tidak bekerja, 83 persen tidak bekerja. Timpat tinggal, 3 persen di jalanan, 4 persen bepindah-pindah, 9 persen bersama saudara, 84 persen di tempat orang tua, papar Restaria saat Launching Hasil Penelitian dan Seminar Situasi Anak Berhadapan Dengan Hukum dan Persepsi Aparat Penegak Hukum Terhadap Proses Anak Berhadapan Dengan Hukum, di Gedung LBH Jakarta, Rabu (11/4/2012).

Ironi memang jika keluarga sebagai ekologi mikro bagi tumbuh kembang anak tidak menjalankan fungsi dengan baik. Lebih lagi jika kegagalan lingkungan mikro sebagai dampak dari kegagalan lingkungan makro, yakni kebijakan ekonomi, sistem politik, kebijakan keamanan. Bahkan bisa juga sebagai akibat kegagalan lingkungan meso, yakni sekolah, tempat ibadah dan seterusnya.

Mengapa anak? Anak menanggung beban terberat masalah orang dewasa (keluarga,rohaniwan, masyarakat, negara). Sepertinya setiap kenaikan harga BBM juga perlu ada perhitungan khusus beban yang harus ditanggung oleh anak karena menyangkut kebutuhan nutrisi dan pendidikan. Kalau uang belanja dan tranportasi rumah tinggi sudah mepet, keperluan anak memiliki peluang untuk dicut off. Masa kanak-kanak merupakan jendela kesempatan yang tidak terulang, masalahnya terbawa sampai masa dewasa. Seberat apapun, which is good kepentingan terbaik anak perlu diupayakan.

*Keluarga bahagia semuanya sama, setiap keluarga yg tak bahagia itu tidak bahagia dg caranya masing-masing ["Anna Karenina" by Tolstoy]

Thursday, April 12, 2012

Cerita dari Kampung Berkerikil: Salam Bilogai


Cerita dari Kampung Berkerikil: Salam Bilogai

Video dari EnggageMedia yang menarik. Salam khas Bilogai, mungkin ini bukti exclusive breast feeding atau ASI penting untuk kehidupan dan bonding ibu dan anak.

Wednesday, April 11, 2012

ODHA : Hidup Mati Di Tangan Tuhan

Falsafah Jawa bibit bebet bobot sering digunakan sebagai ukuran untuk memilih calon menantu atau pasangan, baik laki–laki maupun wanita. Kurang lebihnya bibit untuk memastikan yang bersangkutan dari keluarga baik-baik dan memastikan anak siapa. Bebet untuk memastikan kesiapan ekonomi yang memastikan tidak akan kesulitan ekonomi dalam bahtera rumah tangga. Bobot untuk memastikan kualitas mempelai dalam menjalani kehidupan dan cukup terpelajar.

Terlepas itu masih relevan pada era saat ini, kurang lebih pelajaran yang dapat dipetik adalah jangan membeli kucing dalam karung. Seperti layaknya sebuah klub bola yang belanja uang besar untuk membeli pemain berkelas tapi tidak kunjung memberi kontribusi apapun untuk tim. Bicara tentang pemain bola seperti itu saya ingat dengan Torres yang dibeli Chealsea dari Liverpool. Gol pertamanya baru tercipta pada pertandingan ke-14 atau setelah bertanding dengan total lebih dari 732 menit. Banyak factor yang mempengaruhi, diantaranya penyesuaian gaya permainan tim, komunikasi dalam tim, dan seterusnya.

Apakah dengan menimbang bibit bebet bobot akan menjamin segalanya berjalan baik-baik saja? Pernikahan diibaratkan naik sebuah roller coaster. Banyak hal yang sudah diketahui maupun belum diketahui akan muncul. Sifat asli akan muncul dalam perjalanan, tergantung bagaimana masing-masing pihak menyikapi perubahan.

Suatu ketika saya pernah bertemu dengan seorang wanita yang selalu termenung dan kemudian saya ketahui berstatus janda dengan satu anak dan keduanya positif HIV. Ibu itu tertular dari suami yang sudah meninggal enam bulan lalu. “Saya memang tidak tahu kalau suami saya terinfeksi HIV, memang sih saya tahu kalau dia nyuntik. Kalau bisa saya gali, saya akan gali kubur suami karena sudah tularkan ini” kata Ibu itu dengan semangat. Saya hanya bisa merespons dengan menganguk saja. Perdebatan akan muncul jika saya keberatan atau membela ibu itu. Perdebatan pihak yang salah dalam transmisi virus itu menurut saya tidak akan berakhir seperti mendiskusikan mana yang dahulu antara telor atau ayam. Menerima pasangan apa adanya akan lebih memotivasi pasangan dan diri sendiri untuk terus melanjutkan. Mungkin orang terdekat Robert Rayford juga kaget ketika harus meninggal dunia pada usia 16 tahun karena tidak berfungsinya sistem kekebalan tubuh yang mengakibatkan infeksi oportunistik. Baru pada tahun-tahun selanjutnya diketahui bahwa penyebabnya adalah HIV. Pada saat itu juga tidak ada yang disalahkan atau didiskriminasikan karena pengidapnya. Hasil penelitian yang mengungkap transmisi diantaranya penggunaan peralatan medis dan perilaku seks dan pengobatan virus tersebut membuat stigmah tersendiri.

Bukankah life must go on? Memang ada beberapa yang mengatakan bahwa ini sebagai kutukan, meskipun tidak benar. Tapi penelitian terus dilakukan untuk penanganan ini. Bagi yang terjangkit juga telah mendapatkan ART yang menurut pendapat pribadi saya sama seperti penderita diabetes, kolestrol. Kemenag kita, Dahlan Iskan yang belakangan ini ngamuk di gerbang tol (semoga bukan karena lupa minum obat darah tinggi ya Pak hehehehe) juga mengaku harus minum obat setiap pagi sebagai konektor hati barunya. Layaknya penderita diabetes yang disarahkan memperhatikan 3 J, jadwal- jenis –jumlah untuk pola makan seperti iklan Diabetasol atau yang berpotensi kolestrol tinggi memperhatikan opla makan. ODHA juga disiplin menjaga disiplin menjaga pola hidup. Bagi ODHA atau pasangannya yang menerima ART, pertama khususnya ibu pada masa awal kehamilan sampai menjelang kelahiran maka anaknya resiko tertular berkurang. Kedua, menurunkan resiko penularan sebesar 80% pada pasangan. Bukankah hidup mati ini ada di tangan Tuhan dan mengampuni lebih baik?

Jika masih ada cinta di hatimu
Maka maafkanlah segala kesalahan
Cintailah cinta

Bila kamu bisa ’tuk memaafkan
Atas kesalahan manusia
Yang mungkin tak bisa dimaafkan

Tentu Tuhan pun akan memaafkan
Atas dosa yang pernah tercipta
Yang mungkin tak bisa diampuni

* Cintailah Cinta - Dewa

Sunday, March 18, 2012

Pelajaran Dari Iron Lady

Selain dianugerahi kompetisi sepak bola yang berkelas dunia, Inggris juga punya sejarah pernah dipimimpin wanita yang disegani secara Internasional, yakni Margaret Thatcher . Bersama @liapras, @ocel_aza, danJeffry ada kesempatan nonton film Iron Lady. Film biografi yang dibintangi oleh Meryl Streep bercerita tentang sosok Margaret Thatcher, Perdana Menteri Inggris. Peran sebagai Margaret Thatcher dibawakan dengan baik hingga oleh dewan juri diganjar piala Oscar 2012 untuk kategori pemain terbaik.

Elang yang terbang sendiri. Mungkin ungkapan itu ada benarnya. Burung jenis karnivora ini memang sering digunakan untuk menggambarkan pribadi yang kuat karena memiliki kemampuan untuk terbang tinggi, tidak seperti burung lain. Kemampuan itu memiliki konsekuensi pada tidak ada burung lain, kecuali sejenis yang mendampinginya untuk terbang tinggi. Ia akan menghadapi terpaan angina sendiri. Untuk mengusiknya harus membongkar sarangnya. Demikian juga sosok Margaret Thatcher yang kerap oleh Denis Thatcher, sang suami disapa MT (baca: eMTi). Film yang disutradarai Phyllida Lloyd menggambarkan perjalanan hidup MT dari keprihatinan terhadap situasi negeri di dataran Eropa hingga bisa meniti karir sebagai perdana menteri sampai masa ia lengser dan hidup sendiri. Masalah politik, sosial hingga rumah tangga MT berusaha disajikan dalam film yang dirilis di Inggris pada 6 Januari 2012. Ketegangan dalam meniti pekerjaan dan rumah tangga menjadi sosok wanita yang identik dengan partner suami dalam mengurus rumah tangga.

Terlepas bagaimana akhir hidup MT dalam kesendirian, dan mengahadapi masalah keseimbangan hidup antara karir dan keluarga, tapi film ini memberi inspirasi tentang keteguhan hati dan bersikap. Semoga tidak ada ungkapan ‘dibalik kesuksesan suami atau istri ada pasangan dan keluarga yang mengelus dada” tapi muncul kebanggan dari hasil keseimbangan hidup antara karir dengan keluarga dan rasa syukur. Berikut ini beberapa kutipan ungkapan MT ini bisa memberi inspirasi:

# On politics: “It used to be about trying to do something. Now it’s about trying to be someone.”

# On Feelings versus Ideas: “What? What am I ‘bound to be feeling?’ People don’t think anymore. They feel. ‘How are you feeling? No, I don’t feel comfortable. I’m sorry, we as a group we’re feeling….’ One of the great problems of our age is that we are governed by people who care more about feelings than they do about thoughts and ideas. Thoughts and ideas. That interests me. Ask me what I’m thinking.”

# On the Role of Women: “I will never be one of those women, who stay silent and pretty on the arm of her husband. Or remote and alone in the kitchen doing the washing up for that matter. One’s life must matter, Denis, beyond all the cooking and the cleaning and the children. One’s life must mean more than that. I cannot die washing up a teacup.”

# On Self-Reliance: “What I do think is a man should be encouraged to stand on his own two feet. Yes, we help people. Of course we help people, but for those who can do, they must just get up and do. And if something’s wrong, they shouldn’t just whine about it. They should get in there and do something about it. Change things.”

# On Foreign Policy: “May I make plain my negotiating position? I will not negotiate with criminals or thugs.”

# On Free Enterprise and Jobs: “You are the backbone of our nation. Small firms, like Ludley’s Ice Cream. I passionately believe that it’s the growth of small businesses into large ones that is critical for Britain’s future. And the only way we will produce jobs, real jobs, jobs that sustain.”

Saturday, February 4, 2012

Hidup Ini Jangan Dibawa Susah #ODHA

“Hidup ini jangan dibawa susah, semua ntar juga mati”, kata seorang pemuda ke gadis yang duduk di berjarah dua bangku dari saya. Di rumah sakit bilangan Jakarta Timur, siang ini saya sedang antri periksa jempol kaki kiri karena kuku terlepas awal Januari lalu saat mengurus kargo sepeda motor di Stasiun Senen. Puji Tuhan luka di jempol sudah kering, tapi kondisinya botak karena kuku sudah lepas. Tapi menurut dokter butuh perawatan khusus untuk menghindari kotoran masuk melalui rongga bekas kontur kuku.

Mendengar pembicaraan pemuda itu, saya tertarik untuk tau apa gerangan sakit pemuda ini kok sampai bawa-bawa kata ‘mati’. Setelah terlibat pembicaraan dengan pemuda, yang sebut saja namanya Benjol, saya tau kalau dia adalah ODHA. Istilah yang pada era ini sudah tidak asing lagi, yakni Orang Dengan HIV Aids. Rupanya hari ini jadwal rutin dia untuk memeriksakan diri dan mengambil obat. Melalui rumah sakit ini dia bisa memperoleh akses perawatan untuk monitoring kondisi kesehatan dan mendapat obat yang harus dia konsumsi seumur hidup. Dia mengaku sudah sering megalami kondisi drop. Hal ini ditunjukkan dengan parameter hasil pemeriksaan CD4 di bawah angka 25. Setahu saya kondisi bisa drop karena daya tahan tubuh masing-masing berbeda, pola hidup yang yang tidak sehat seperti merokok, konsumsi alkohol, konsumsi narkoba, lingkungan yang mengakibatkan mudah terpapar polusi, dan makanan yang tidak sehat.
Setelah saya selesai menjalani pemeriksaan, saya kembali duduk bersama Benjol sambil menunggu sang dokter dating. Pikir saya dia sudah selesai, tapi dia mesti ambil obat dia bagian depo obat. Rasa ingin tahu membuat saya ikuti dia sambil ngobrol-ngobrol tentang muasal dia bisa terindikasi HIV. Ia mengaku awalnya karena perilaku penyalahgunaan narkoba dengan alat suntik. Wow, rupanya dia pengguna putaw. Memang situasi yang sulit untuk bisa bebas dari jerat putaw, karena saya pernah ada di sana cukup lama. Ini bukan suatu kesombongan bisa lepas dari jerat narkoba, tapi sesuatu yang patut disyukuri dan diperjuangkan karena mengingat tidak mudah lepas. Puji Tuhan, saya bisa lewati masa-masa sulit untuk lepas. Ini berkat dukungan dan doa keluarga, lingkungan dan orang yang sangat mencintai saya sehingga saya tidak jatuh lebih dalam lagi. Memperhatikan Benjol secara fisik dan pemilihan gaya bahasanya mengingatkan saya tempo dulu  Inilah yang membuat saya selalu dalam posisi empati dan simpati kepada korban narkoba. Saran saya buat teman-teman yang masih terlibat dengan narkoba, berhenti sekarang atau nanti mati sebagai pecundang.

Pasien yang menunggu antrian mendapat Anti Retroviral Virul (ARV) sekitar 15 orang. Diantaranya yang antri bukan penderita langsung, tapi ada sanak saudara ODHA, atau bahkan untuk dirinya dan pasangannya sekaligus yang sudah tidak bisa lagi datang berobat karena kondisi fisik yang tidak mampu jalan. Setelah menunggu sekitar 45 menit untuk proses verifikasi data dan pembuktian secara fisik untuk obat yang tersisa pada bulan sebelumnya, akhirnya Benjol memperoleh obat untuk durasi satu bulan. Itu yang setiap bulan harus dia lalui agar dapat pertahankan kondisi fisiknya. Tiap hari harus minum obat dua kali tepat waktu. Jadi ingat dengan pengakuan Dahlan Iskan yang saat ini menjabat Menteri BUMN juga harus minum obat setiap hari pukul 5 pagi sebagai konektor ‘hati baru’ setelah menjalani transplantasi hati. Hampir tidak ada beda dalam pola minum obat, sama saja.

Serangkaian prosedur pemeriksaan dan memperoleh obat yang diakses oleh ODHA dengan mudah tentu telah melalui proses pengkajian dan advokasi oleh pihak-pihak pemangku kepentingan dan penggiat HIV AIDS. Penting bagi semua pihak untuk menjaga komitment, baik untuk menyediakan layanan, advokasi untuk menekan akan prevelansi HIV AIDS. Demikian juga ODHA sendiri untuk menjaga kesehatan dengan menjalankan pola hidup sehat, yakni makan makanan sehat, vitamin, olah raga dan menjaga sanitasi lingkungan yang bersih. Oh iya, jangan lupa buang sampah dan bekas obat di tempatnya ya kawan . Memang standart hidup yang sehat tidak lepas dari kemampuan sumber daya yang baik. Bayangkan saja seandainya orang tidak lagi punya pilihan untuk hidup di lingkungan kumuh dan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya saja masih belum mampu. Maka yang akan dikorbankan adalah biaya pendidikan keluarganya dan kesehatan. Maka usaha mandiri ODHA untuk mencapai standart hidup layak dari segi kesehatan akan sia-sia. Dibutuhkan usaha yang integratif dari semua pihak untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA, dari segi sanitasi dan pembangunan perekonomian, hingga akhirnya usaha penanggulangan HIV juga akan berjalan maksimal. Masih banyak penggiat pekerjaan sosial yang bisa lakukan untuk mensuport ODHA dengan beberapa pendekatan pembangunan, yakni kesehatan dan perekonomian. Tetap semangat untuk teman-teman ODHA karena kalian tidak akan berjalan sendiri. YNWA.

Wednesday, May 11, 2011

Doa Hernandes dan Gol Cepatnya.


Laga ini jadi bisa jadi sebagai penentu siapa juara Barclay Premier League. Menjelang kick off babak pertama pada laga Manchester United vs Chelsea, Nampak Javier Hernández Balcázar atau yang biasa dipanggil Chicharito oleh penggemarnya mendaraskan doa yang cukup lama di tengah lapangan. Belum genap 1 menit pluit tanda pertandingan dimulai, tepatnya detik ke 39, Hernandez berhasil melesatkan gol pembuka meneruskan umpan Park Ji-Sung.

Memang doa Hernandez, pemain asal Meksiko dengan gol cepatnya tidak ada hubungannya secara langsung. Ada catatan gol lebih catatan gol yang lebih cepat dilesakkan oleh Nawaf Al Abed pada detik ke 2. Doa, gol dan hasil akhir pertandingan hanya Tuhan yang tahu. Terlepas ada tangan-tangan yang terlepas ada tangan-tangan yang tak terlihat ikut mengatur hasil akhir pertandingan. Wasit Howard Webb dalam kaitan pada pertandingan ini dipertanyakan intergritasnnya. Tapi tunggu dulu, dia juga tidak bisa bertindak sebagai tuhan yang menentukan hasil akhir dengan serta merta.

Hubungan doa dan usaha manusia untuk mendapatkan manusia sering menjadi perdebatan pemahaman sebuah keyakinan relegius. Satu pihak memahami doa menjadi pendukung sebuah usaha yang dilakukan. Satu pihak lain, memahami berdoa saja tanpa mementingkan usaha keras. Pada pihak lain lagi yang lebih ektrim memahami bahwa usaha keras kita lebih menentukan dari pada doa. Pertanyaannya, apakah ketika kita sudah berupaya dan berdoa keras, tapi hasil yang kita peroleh tidak sesuai dengan harapan artinya Tuhan tidak adil? Ironis jika pemahaman itu dibiarkan liar mempengaruhi pemikiran kita. Adanya banyak orang yang berusaha dan berdoa keras untuk hidupnya lebih baik, memperoleh kehidupan yang lebih banyak, tapi tetap diijinkan untuk berjuang hidup memenuhi kebutuhan hidupnya. Apa Tuhan salah? Ada banyak yang mempengaruhi, hidup diluar kita yang tidak membuka kesempatan memperolehnya. Keadilan, kejujuran, belas kasihan dan kearifan juga perlu dimiliki orang-orang disekitar kita untuk melihat apa yang diharapkan oleh Sang Pencipta bagi sesame manusia. Lantas mengapa Tuhan tidak memusnahkan manusia yang serakan dan berbuat jahat? Itu tetap menjadi rahasia Tuhan.

Lebih parahnya, jika kita tidak mau berusaha dengan keras dan tidak mau berdoa dengan keras. Pada jaman yang serba instan dan dipengaruhi budaya mcdonalisasi dengan mengharapkan segala sesuatu tersaji dengan cepat tanpa adanya usaha. Masih diperlukan doa dan usaha keras untuk melakukan yang terbaik daam hidup ini. Kalau ada ungkapan yang mengatakan, “untuk mencapai sukses, yang menentukan bakat 10% dan usaha keras 90%” Bagaimana kalau keduanya kita serahkan dalam doa?

Selamat Manchester United, Anda layak dapat bintang!!! Untuk Chelsea bukankan ada menit-menit pertandingan yang lain?
sumber foto:

Monday, May 9, 2011

Kopi Ulee Kareng dan Gorengan Oro Oro Ombo di Hujan Bulan Mei

Hujan yang menurut saya over dosis ini membuat Kota Wisata Batu semakin dingin. Cuaca itu menimbulkan rasa ingin makan yang entah berasal dari perut atau mulut untuk makan tempe dan pisang goreng. Hujan ditembus untuk sekedar memuaskan keinginan mengunyah dua macam cemilan yang kaya minyak yang dijual lima ratus rupiah sebiji.

Teringat buah tangan seorang teman dari Aceh, ya kopi Ulee Kareng. Jadilah sore ini dinikmati bersama gorengan yang saya beli dari desa sebelah dan kopi Ulee Kareng yang berasal dari belahan barat Indonesia. Dua jenis makanan dari daerah berbeda, tapi membuat sore ini cukup hangat dan nyaman. Entah berapa orang penduduk Kota Wisata Batu yang tidak bisa merasakan seperti yang saya rasakan sore ini. Hujan, dingin, dan ingin makan tentu tidak bisa dipuaskan hanya dengan datang ke alun-alun Kota Wisata Batu seharga 12,7 milyar rupiah. Urusan perut lapar dan alun-alun memang tidak ada kaitannya. Tapi berharap adanya alun-alun yang diresmikan dengan perayaan bertajuk “Moment Spektakuler” sebagai moment kebangkitan ekonomi masyarakat Kota Wisata Batu juga tidak ada salahnya. Ini bergantung pada dari mana saya, Anda, dan Mereka melihat itu semua.

Sudut pandang boleh berbeda, tapi paling penting tujuannya sama, itu saja. Pemerintah dan seluruh stakeholder Kota Wisata Batu boleh saling berbeda satu dengan lain dalam melihat alun-alun baru ini, yang penting masyarakat tetap mendapat kesempatan menerima manfaatnya.

Thursday, April 7, 2011

Susur Sungai Kahayan

Menyusur Sungai Kahayan dengan menumpang kelotok (perahu) pengangkut kangkung dan ternyata menambah pengalaman baru Minggu (27/03/2011). Jembatan Kahayan menjadi tetenger kota Palangkaraya. Jembatan dengan panjang 640 m dan lebar 9 meter dibangun 1995- 2001. Kelotok atau perahu yang biasa digunakan melintas di Sungai Kahayan ternyata rata-rata mesin motor penggeraknya kalau dilihat mereknya diketahui buatan China. Langit Minggu pagi yang masih menina bobokan penghuni DAS Kahayan yang memiliki panjang 250 KM. Kehidupan sungai pagi sudah dimulai dengan ritual yang relatif sama dilakukan oleh manusia dimana saja, yakni ke WC.

Sebuah toko yang menyediakan kebutuhan pokok penduduk Sungai Kahayan. Mulai pangan sampai kebutuhan kamar mandi. Meski aktifitas MCK di satu tempat dan air yang sama, peralatan mandi juga harus yang berlabel sama dengan yang ada di televisi.


Ini model peternakan di DAS Kahayan. Ikan punya keramba, merpati dan ayam punya kandang.





Sarana angkutan air untuk perabot rumah tangga lebih murah dari pada lewat darat.


Ramai lalu lintas air Sungai Kahayan disediakan stasiun pengisian bahan bakar untuk kendaraan air.

Wednesday, April 6, 2011

Wahyu dan Mamaknya

Kita punya banyak pengalaman masa lalu untuk diceritakan, tapi anak-anak memiliki masa depan untuk diperjuangkan.





Cuaca panas menghentikan perjalanan kami menggunakan motor jenis trail di warung pinggir jalan kawasan taman wisata Gaul di Palangkaraya. Warung semi permanen terbuat dari kayu isi dengan berbagai makanan dan minuman ringan dalam kemasan plastik dan botol. Pilihan saya jatuh pada kelapa muda yang tersaji dalam gelas.


Seorang anak, yang mengaku nama panggilannya Wahyu berbicara dengan Peter menggunakan bahasa Dayak . Berusaha memahami isi pembicaraan ternyata ia menawarkan biawak hasil tangakapannya di rawa-rawa belakang warung. Ia anak pemilik warung itu. Karena terbungkus karung plastic, saya tidak bisa melihat rupa hewan tangkapannya. Menurut pengakuan pemilik nama lengkap Wahyu Supriadi ini berumur 11 tahun. Kegiatannya hanya bermain di rawa-rawa belakang warung tempat ibunya berjualan sekaligus tinggal. “Saya hanya sekolah sampai kelas empat, karena sering pindah-pindah ikut orang tua mencari nafkah” kata Wahyu. Rupanya orang tuanya harus pindah-pindah dengan membangun warung baru demi mencari penghasilan dan bertahan hidup. Jarak perpindahannya tidak jauh, hanya dalam wilayah satu kecamatan Bukit Batu.


Menurut Pemerintah Kota Palangkaraya , kecamatan Bukit Batu luasnya 572,00 Km. Bisa jadi perpindahan dalam satu wilayah kecamatan jaraknya jauh. Memang maksud hati orang tuanya bagus untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi pendidikan Wahyu terabaikan. Wahyu pada usia harus sekolah terpaksa tidak sekolah karena tiada saran transportasi yang menjangkau sekolah lamanya dan disekitarnya tidak ada sekolah. Namun semata-mata tidak ada sekolah, tapi perjuangan orang tuanya untuk mempertahankan hidup berdampak pada masa depan Wahyu. Sungguh kehidupan yang rentan.


Coba kita perhatikan diagram dibawah ini. Situasi yang rentan lebih dimampukan dengan adanya program ekonomi yang jelas memampukan orang tua Wahyu dan mungkin orang tua lainnya. Secara fisik mereka anak yang gisinya cukup. Palangkaraya berlimpah ikan dan sayur rotan konon memiliki kandungan protein yang tinggi. Paling tidak sejak kecil mereka sudah mengkonsumsi makanan itu. Tidak ada yang salah dengan nutrisi mereka. Situasi Wahyu dan Wahyu lainnya harus ada yang memikirkan. Impian saya disana banyak lahan yang bisa digunakan sebagai lapangan bola, kita dididik mereka dengan berbagai pengetahuan dan sepak bola. Berharap dari Palangkaraya lahir pemain sepak bola tangguh. Ayo Kak!!

Monday, April 4, 2011

Aceh, Mulai Resto Sampai Kaki Lima

Tidak telalu lama, hanya seminggu menginjakkan kaki di Aceh. Kapan pastinya saya ke Aceh juga tidak terekam dengan baik. Tapi yang pasti hari kedatangan saya bersamaan dengan Hasan Tiro pulang kampung pertama kalinya. Lautan manusia menanti kedatangan sosok yang dijulik Wali Aceh.

Ingatan terhadap Aceh bukan hanya itu saja. Tempat-tempat yang menyajikan makanan di Aceh juga menimbulkan kangen. Saya coba mengingat, meski tanpa klasifikasi yang jelas. Mulai yang resto, sampai kelas kaki lima.

1. Padang Bunda. Rumah makan Padang yang konon masih satu pengelola dengan Pante Pirak ini harganya selangit, tapi terbalas dengan cita rasa yang disajikan.
2. Resto Banda. Satu lagi rumah makan yang harganya selangit, tapi kepiting saus aceh rasanya ‘ciamik soro’. Kalau bisa makannya rame-rame. Maksudnya biar ringan memikul tagihannya.
3. Sate Matang. Di pusat makanan Rex, depan Hotel Medan dapat ditemui. Sate matang bukan berarti ada sate yang mentah. Matang adalah nama daerah di Aceh.
4. Mie Kepiting. Tempatnya masih sama, di Rex, tepatnya pojokan Pace Bene.
5. Ayam Tangkap. Secara cara masak seperti ayam goreng biasa. Tapi ada beberapa bumbu yang sengaja tidak dihaluskan dan daun jeruk digoreng. Hasil akhirnya daun jeruk berasa seperti kripik. Jangan kaget ukuran potongannya kecil-kecil. Mungkin satu ekor dipotong jadi 30-40.
6. Kopi Taufik, daerah kampung Mulia. Sering saya kunjungi karena kantor saya di Aceh juga daerah kampung Mulia. Relatif sama semua kopi Aceh. Sebenernya ada juga satu yang pernah saya kunjungi beberapa kali. Namanya Pocut Baren, patokannnya dekat GPIB. Sambil ngopi, cemilan andalan roti srikaya dan tak ketinggalan bisa menikmati aksi barista menyajikan kopi.

Yang terakhir ini bukan saja tempat minum kopi dan nongkrong. Tapi banyak hal yang dibicarakan oleh mereka. Mulai dari hal yang bersifat pribadi, bisnis, sampai keurusan politik.Mungkin kalau lebih lama disana saya bisa merekomendasikan makanan yang lain.

Thursday, May 27, 2010

Juara Baru ISL 2009/2010

Menurut logika saya, setiap akhir dari pertandingan atau kompetisi akan selalu mendebarkan. Apapun itu bentuk pertandingannya, apapun itu kompetisinya. Akan lahir pemenang baru atau juara bertahan. Sengit bila ada dua bakal juara yang saling bersaing untuk ditahbiskan sebagai juara.

Perebutan tempat juara antara Persipura dengan Arema sudah dipastikan kemarin lewat laga PSPS Pekanbaru melawan Arema Indonesia. Hasil imbang 1-1 memastikan Arema sebagai juara. Memang seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, Arema akan juara tahun ini.

Gelar terakhir masing-masing, dua kali juara copa untuk Arema dan juara ISL untuk Persipura. Masing-masing pernah mewakili Indonesia diajang Champion Asia. Tapi hasil tidak memuaskan lagi-lagi diraih keduanya. Banyak pembenahan dan cara dilakukan keduanya agar bisa eksis di liga antar klub Asia itu. Mulai pembenahan infrastuktur lapangan, manajemen tim, hingga belanja pemain tim. Persipura mempertahankan komposisi pemain terbaik ketika meraih gelar juara LSI dengan menambah beberapa pemain berkualitas baik ukuran Indonesia. Sebelumnya juga Arema ketika masih dikelola PT. Bentoel, rela merogoh saku sangat dalam untuk mendapatkan pelatih sekelas Miroslav Janu, sepaket dengan pembantunya Tony Ho dan Herman Kadiaman. Ditambah beberapa pemain sekelas Ponaryo Astaman, Ellie Eiboy, Hendro Kartiko, Ortiz Sallosa dan seterusnya. Namun toh keduanya masih sulit menembus babak yang paling bergengsi dari kompetisi itu. Bahkan Arema dengan komposisi terbaiknya gagal mengulang prestasi terbaik di Copa Indonesia. Kesulitan menghadapi tim sekelas Persekabpas Pasuruan, Persiba Bantul dan Persibo Bojonegoro. Siapa saja boleh mewakili Indoensia di Liga Champian Asia, tapi jagalah martabat bangsa dengan tidak menjadi lumbung gol dari tim-tim negara China, Korea, Jepang dan lainnya.

Biasanya redaktur olah raga tiap media memfokuskan pada perebutan juara. Tak terkecuali mereka memburu komentar dari masing-masing tim yang bersaing dan pengamat bola. Saya tetap menunggu tulisan paling cerdas dari tim redaksi olah raga tiap media dan pernyataan paling cerdas serta patut menjadi panutan dari Jackson F. Tiago, pelatih Persipura dan Robert R. Albert, pelatih Arema. Saya teringat penyataan Fergie, manager MU tentang Chelsea yang menjadi pesaingnya mampu mengalahkan Liverpoll. Ia mengatakan gol Drogba sebagai hadiah karena kegagalan Gerraard melakukan backpass kepada kiper Pepe Reina, backpass itu tak ubahnya sebagai umpan matang ke penyerang asal Pantai Gading. Saya pikir apakah itu hadiah atau bukan hanya Gerarrd dan Tuhan saja yang tau. Tapi yang jelas seperti yang dikatakan salah satu pesohor sepak bola Belanda, sepak bola selalu dipenuhi dengan kesalahan-kesalahan, oleh karena itu perlu diminimalisir.

Meskipun ada indikasi sebuah kesengajaan, tapi usaha keras untuk menjadi juara perlu ditunjukkan. Pengaturan nilai dan hasil pertandingan sepak bola memang bisa saja diindikasikan di tiap kompetisi pada semua tingkatan. Bahkan di Indonesia sendiri pernah ternoda dengan adanya sepak bola gajah dan suap. Namun pembuktiannya sangat sulit, seandainya semua aparat penegak hukum maupun komisi-komisi yang berwenang dalam masalah hukum dikerahkan belum tentu bisa mengungkap kasus suap. Kata teman saya, ”suap itu seperti kentut, ada baunya tapi sulit membuktikan siapa yang melakukannya”. Separah itukah sepak bola Indonesia? Terlepas siapa nanti juaranya, berharap kompetisi lebih baik dalam segala hal. Masak sih di Indoensia ini bila ada beberapa orang benar yang terlibat langsung sepak bola tidak bisa membuat olah raga yang paling banyak penggemarnya ini bisa lebih baik, apalagi mampu berprestasi di Internasional?