Friday, May 11, 2012

Polisi, Angkot dan Sopir Sarjana

Akhir ini banyak pertanyaan denga tidak hadirnya Polisi dalam setiap peristiwa. Mulai dalam peristiwa geng motor, langgar rambu lalu lintas sampai pembubaran paksa sejumlah forum diskusi oleh sekelompok orang.

Tapi saya mengalami di mana saya lengah, eh malah ada polisi dan saya jadi gagal paham dengan situasi itu :)

Siang yang panas dan jalan yang tidak padat di sepanjang jalan dari terminal Bratang ke perempatan Bratang Bingangun. Memang enak antri lampu lalu lintas berganti hijau di bawah rimbunya pohon. Tapi angkot warna merah bata ini tidak segera bergerak maju meski lampu sudah hijau sebagai tanda bisa jalan dan saya klakson ulang-ulang. Tujuannya sih mulia, untuk tunggu penumpang. Tapi kalau orang lain susah dan dua kali tunggu lampu lalu lintas berganti warna hijau ini keterlaluan karena hanya angkot ini yg di depan dan saya tidak bisa bergerak maju atau ambil jalur sebelah kirinya. Mau ambil kanan sudah berjejer warung soto dan nasi goreng Lamongan dengan kualitas kalau 1 sampai 10 nilainya tujuh itu.

Alhasil saya harus tunggu angkot itu jalan, meski lampu sudah merah lagi. Jadi singkatnya saya dengan mobil yang saya tumpangi dan angkot merah itu sama-sama jalan meski lampu lalu lintas sudah merah. Angkot pun meluncur tenang dan pelan dengan harapan dapat penumpang. Sebaliknya saya harus berhenti karena ada polisi karena saya melanggar. Seharusnya saya kalau tahu ada polisi tetap aja menunggu sampai lampu berubah hujau lagi. Entah di mana sembunyinya. :)

“Selamat siang Mas” sapa Polisi yang saya lupa pangkatnya apa

“Siang Pak” singkat jawabku sambil geram dalam hati

“Wah, sepertinya sampeyan keburu-buru ya, bisa lihat surat-suratnya?”

“Nggak Pak, angkot depanku aja yang hijau malah berhenti, merah malah jalan” sambil serahkan SIm dan STNK, sambil lirik dompet just in case saya harus ada unexpected expenses di tempat supaya jumlahnya pas, tapi urusan lancer

“Angkot iku sampeyan lolos’no, aku sampeyan tangkep” (angkot itu anda loloskan, tapi saya anda tangkap”, saya mulai dialog dengan pak Polisi

“Lha, sampeyan iku yo opo Mas, sampeyan iku sarjana kok nuruti sopir gak lulus SD” (Anda itu bagaimana, sarjana kok ikuti supir yang gak lulus SD, jawab pak Polisi

Jleb, saya mulai sadar dan tertawa dengan diri sendiri.

“Ya sudah, jangan diulang lagi ya Mas, jangan diulang lagi” nasihat pak Polisi sambil kembalikan SIM dan STNK. Kemudian ia mengarahkan mobil saya untuk segera jalan sambil memberi tanda kepada mobil lain agar pelan.

“Iya Pak, maaf ya Pak, terima kasih” jawabku setengah malu sambil menutup kaca jendela mobil.

No comments:

Post a Comment