Jumat petang itu saya habiskan dengan bertemu dengan seorang kawan lama di Taman Menteng. Berbicara tentang yang penting hingga yang tidak penting di sebuah taman berteman dengan minuman yang dijajakan pedagang asongan yang kerap mangkal di Taman Menteng. Letaknya persis di belakang Hotel Formule 1 kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Kami memilih duduk di salah satu penjual minuman dingin yang bersanding dengan gerobak nasi goreng.
Sedikit kaget ketika membayar sebotol air mineral ukuran 600 ml. merek ternama dan dan teh botol. Penjual yang mengaku namanya Husor menyebut, ‘sembilan rebu, Bang”. Setelah saya tanya secara rinci harga air mineral Rp 5,000 dan teh botol Rp 4,000.
Dibanding dengan harga di gerai seven eleven yang hanya berjarak kurang dari 100 meter hanya dibandrol paling mahal Rp 2,500. Ada bonus tambahannya ada fasilitas free Wi-Fi, ruang ber-AC dan kursi tentunya. Kalau di bang Husor jangankan AC dan Wi-Fi, kursi pun tak ada. Kami berdua duduk dipinggiran pagar yang mengelilingi taman sepanjang trotoar.
“Kalau siang kerja di mana Bang?”, tanyaku
“Saya dinas di Cilandak”, jawabnya
“Kantor apa Bang?” sahutku
“Saya Marinir, biasanya yang jual ini istri saya. Tapi karena dia dinas malam, jadi saya yang harus gantikan,” jawabnya sigap
“Istri memang tugas di mana Bang?”, lanjut tanyaku
“Di rumah sakit”, jawab bang Husor
Aku langsung berkata dalam hati,”Memang tidak cukup gaji anggota Marinir dan karyawan di rumah sakit?” Tapi itu bukan urusan saya untuk cari tahu berapa pengahasilan orang, tapi yang penting bagiku dia hanya berusaha bertahan hidup dan memenuhi kebuhan dengan bersih dan benar. Bersih belum tentu benar, dan benar belum tentu bersih.
Ada banyak cerita di negeriku ini yang bisa mendapat pengahasilan dengan benar tapi dengan cara yang kotor, tapi ada juga yang mendapat pengahasilan yang bersih tapi dengan cara yang tidak benar. Benar dan bersih juga sangat relatif, itu menurut siapa. Mencari yang dengan cara yang kotor dan tidak benar saja susah, apalagi yang bersih dan benar.
“Kalau begini dua anak Abang sama siapa di rumah?”, tanyaku sambil mengingat Jeyson dan Gadis yang di rumah. “Sama neneknya,” jawabnya singkat.
“Bukan situasi terbaik yang diperoleh anak-anaknya”, dalam hatiku lirih. Tapi sebagai sesama orang tua, saya juga bisa merasakan bagaimana usaha terbaik untuk anak dan kebutuhan rumah tangga akan mengorbankan sisi yang lainnya. Sama-sama ingin kebutuhan terbaik anak yang ingin terpenuhi, disisi lain kebersamaan dengan anak terlewatkan. Situasi ideal yang membutuhkan usaha keras untuk memujudkan.
“Saya jualan ini untuk isi waktu kosong dari pada nganggur di rumah” celetuknya dengan suara baritone yang menyadarkanku dari lamunan tentang anak-anak yang harus tidak bersama dengan orang tua karena harus bekerja. Bagi saya tanpa harus mengambil kesimpulan dangkal, apapun motivasi bang Husor akan memberi pengahsilan tambahan.
“Kalau jualan di sini tidak ada trantib yang larang berjualan?” tanyaku
“Nggak ada Mas, kita hanya setor ke pengurus kebersihan disini.”
“Paling yang pernah datang dari tentara aja”
“Kenapa Bang?” tanyaku ingin tahu
“Ya, istilahnya disinikan wilayahnya, tapi saya bilang kalau saya ini cuman ingin jualan baik-baik dan tidak mau rusuh. Tapi mereka ngerti kok” jawabku dengan penjelasan yang tidak perlu pertanyaan tambahan lagi. Belakangan saya baru tahu kalau di Taman Menteng ada Koramil.
“Semua setorannya sama Bang?” tanyaku
“Nggak sama, tapi kalau saya ya lumayan juga sebulan tiga ratus ribuan” jawabnya.
“Kalau yang dipinggir jalan sana lebih mahal lagi” imbuhnya
Saya sedikit analisa, bisa jadi harga sebotol air mineral di sini lebih mahal karena sotorannya yang lumayan dari tenant. Harga kontribusi yang tidak sama masih lumrah dengan pertimbangan crowd sebuah lokasi usaha, tapi kalau itu dilakukan tidak resmi bisa rempong kalau pinjam istilah gaul. Bisa jadi gerai jaringan internasional di depan jual air mineral lebih murah karena bayar pajak dengan resmi. Dalam hati saya berkata, “seharusnya yang tidak resmi lebih murah”. Tapi ini hanya silogisme dangkal saja dari seorang yang tidak selesai kuliah di fakultas ekonomi. Ketika air yang jadi kebutuhan dasar hidup manusia harus ditambahi beban embel-embel harga lainnya bisa jadi mahal.
No comments:
Post a Comment