Hari sudah menunjukkan pukul dua dan matahari yang setia menemani
sepanjang jalan dari Sentani sampai Jayapura. Melewati jalan perbukitan dengan
suguhan pemandangan laut dan hamparan warna hijau akhirnya saya tiba di Jayapura,
kandang klub sepak bola ternama Persipura Jayapura.
Wajah-wajah ras suku Malanesia dengan ciri-ciri warna kulit
hitam, hidung mancung dan rambut keriting jadi pemandangan lumrah. Hanya ada
waktu dua jam ke depan sebelum bertemu dengan salah seorang pegiat pendidikan
di Papua untuk bisa sekadar meletakkan barang di hotel dan makan siang yang
terlambat. Hotel di jalan Percetakan Jayapura ini letaknya berseberangan dengan
gerai ayam goreng cepat saji ternama. Setelah melakukan perjalanan ke Sorong
dan Timika beberapa hari, rupanya badan ini sudah mulai meriang dan linu
tanda-tanda flu datang. Perut yang terbiasa dengan waktu Indonesia bagian Barat
harusnya belum terlalu lapar, tapi demi tetap sehat makan adalah pilihan
pertama.
Pilihan jatuh di warung saji depan hotel. Menunya khas Jawa
Timur, ada Soto, Krengsengan, Rawon dan jenis sayur. Penjualnya asal Madura dan
di sebelah warung ada tempat potong rambut. Makan siang selesai dan diakhiri
dengan minum kopi. Dugaan saya itu kopi Kapal Api karena saya sangat mengenal
aroma dan rasanya. Menikmati tiap tegukan kopi diemperan warung, sambil
menyisir tiap sudut sekitar warung, pandangan berhenti di seorang ibu yang
menata sirih pinang di sebuah meja setinggi sekitar 40 sentimeter. Biji-biji
pinang diatur terpisah, masing-masing berisi sekitar paling banyak sepuluh biji
sebagai takaran bagi pembeli. Biji pinang dinikmati dengan cara mengunyah
dengan campuran kapur itu konon bermanfaat untuk menguatkan gigi dan gusi.
Pinang bisa dianggap sebagai simbol persahabatan. Karena sudah turun temurun,
pinang dinimati oleh semua usia dan kalangan. Pernah sekali di tayangan
televisi Titus Bonay, alias Tibo striker andalan Persipura kala itu bersama
beberapa rekan diwawancarai sambil mengunyah pinah sirih dengan menyisakan noda
merah di bibir.

Hilir mudik manusia dan deru kendaraan silih berganti karena
tepat di sebelah warung ada pasar. Di papan nama tertulis Pasar Mama Mama –
Jayapura. Kira-kira kurang lebih dinamai Pasar Mama-Mama karena mayoritas
pedagang dan pembeli adalah perempuan. Diantara hilir mudik ada dua ibu yang membawa
tumpukan ikan, nampaknya ikan yang sudah diolah. Ya itu ikan asar, atau ikan
yang sudah diasap dan tinggal siapkan bumbu. Paling minimal dengan sambal
kecap, perasan air jeruk sudah bisa dinikmati. Karena saya tidak pernah temui
itu di Batu, sore itu saya bertekad untuk beli dan bawa pulang sebagai buah
tangan.

Selepas meeting dan makan malam, saya dijanjikan oleh Rina
Kabes untuk jalan keliling kota Jayapura. Namun karena Rina baru saja
melahirkan dan temani Amazing Grace yang masih berumur beberapa hari, maka
Fidel sang suami akan temani keliling. Dalam hati saya, pas sekali kalau Fidel
yang akan temani. Saya tertarik sekali melihat Stadion Mandala, markas
Persipura Jayapura yang konon memiliki tribune Liverpool. Jarang siaran
langsung dari stadion yang tak jauh dari pantai ini. Letak stadion yang dekat
dengan pantai semakin menambah angker stadion ini karena dengan cuaca panas
yang menghembus bersama angina laut. Butuh stamina lebih, terlebih jika
sebelumnya harus ke bermain di Wamena atau wilayah lain.
Waktu menunjukkan pukul 20.00, sesuai perjanjian melalui
telepon saya akan tunggu Fidel di lobby hotel yang ada mesin ATM. Sekalipun
saya tidak pernah bertemu Fidel membuat mata harus awas melihat setaip yang
melintas, atau yang datang. Tak lama telepon genggan bergetar, dan layar
menunjukkan sebuah nomor yang tidak saya kenal sebelumnya. Terdengar suara
diujung telepon,
“Selamat malam, ini dengan mas Joe”.
“Ya benar”, sahutku.
“Saya Fidel, Rina pung
suami”
“Hai Bung, bagaimana?”
“Saya masih terjebak macet”
“Hah? Jayapura ada macet? Apa sedang ada bola?”, Sahutku
“Ah trada bola, ini
ada mobil macet di dekat Ardipura”
“Okey Bung, saya akan tunggu ya. Saya pakai kaos merah”
“Okey Mas” jawab Fidel sambil menutup telepon.
Sekitar 15 menit menunggu sejak telepon ditutup, muncul pria
sambil lepas senyum dan bertanya, “Mas Joe?”. “Fidel?” sahutku. “Ya Mas”, jawab
Fidel sambil ulurkan tangan tanda mengajak jabat tangan. Saya pun membalasnya.
Demi memuluskan rencana bawa ikan asar, saya langsung Tanya ke
Fidel tentang ikan Asar dan bagaimana cara beli, termasuk apakah terbiasa
proses tawar menawar harga di pasar.
“Mas Joe, disini tidak biasa ada tawar menawar di Pasar. Dia
beri hargai, itu sudah harga yang harus dibayar” jelas Fidel.
“Ok, baik Fidel” sahutku sambil mengingat sebuah gurauan
tentang pedagang di pelataran parkir Gelael yang sedang tawar menawar dengan
pembeli. Ketika pembeli coba menawar, penjual berkata, “Coba kau beli di Gelael,
kalau boleh harga turun” Tentang
kebenaran cerita itu saya juga tidak pasti.
Sampai di Pasar, kami langsung menuju di deretan penjual
ikan asar. “Mama berapa satu ekor?” tanyaku sambil menunjuk tumpukan ikan
sebesar paha orang dewasa. Perkiraan saya per ekor berat hampir dua kilo.
“Satu dua puluh ribu” sahut mama penjual.
“Kalau saya beli empat boleh 50,000?” saya coba tawar dan
siap-siap kalau-kalau si mama penjual marah.
“Boleh Bapak, itu berkat Tuhan tidak boleh ditolak. Silakan
dipilih” sahut mama penjual. “Ok mama, terima kasih” sahutku sambil pilih
ikan-ikan yang bertumpuk. Setelah saya diyakinkan penjual ikan kalau ikan itu
akan tahan sampai dua hari, saya dan Fidel bergegas jalan ke arah kendaraan
yang akan kami gunakan keliling Jayapura.
Dalam ayunan langkah, saya terhenti
oleh susunan talas sebesar kaki orang dewasa, lagi-lagi saya belum pernah lihat
ini dan putuskan beli. Lumayan kopor saya ada isi saat pulang. Perjalanan ini
saya salah pakai kopor, jadi lumayan longgar. Baju ternyata cukup masuk backpack diantara laptop. Praktis saat berangkat kopor hanya diisi charger-charger perangkat elektronik.
Ketakutan mendapat damptran penjual tidak terjadi malam itu.
Beda budaya memang sering jadi kendala ketika interaksi terjadi. Sisi gelap
budaya sering membuat jatuh dalam stereotip. Saya karena mendengar informasi
bahwa penjual tidak bisa ditawar, maka saya membuat pengelompokan dan itu akan
menjadi pengalaman saya dan mempengaruhi saya dalam bersikap pada kelompok
tertentu. Namun itu tidak terbukti ketika saya memberanikan diri untuk
berkomunikasi secara terbuka. Schramm menyarankan agar komunikasi antar budaya
berjalan efektif, yakni menghormati hak anggota budaya lain untuk bertindak
berbeda dengan cara kita bertindak.

Malam itu saya berhasil keliling kota Jayapura, dari atas
bukit melihat kerlip lampu-lampu kapal saat akan sandar atau buang sauh. Mampir
Stadion Mandala, dan melewati malam Minggu bersama Fidel, ngobrol tentang bola,
semua hal yang penting sampai tidak penting di tepi pantai depan kantor
Gubernur Papua. Malam kian larut, malah menjelang dini hari. Saya harus
istirahat untuk esok melanjutkan aktifitas dan pulang ke Surabaya. Bergerak
meninggalkan pantai sambil terngiang lagu “Aku Papua” yang dipopulerkan Edi
Kondologit. Hitam kulit, keriting rambut
aku Papua